Sabtu, 20 Agustus 2011

"DHARMA BUDAYA"

Bismillahirahmaanirrohiim

Berkat Tuhan Yang Maha Esa, saya bisa berkarya dan terselenggaranya pameran lukisan ini. karya-karya ini aku persembahkan kepada pemerhati seni atau siapapun yang senang akan etika budaya yang agung. Hidupku adalah dharma, maka aku ingin memberi kontribusi dimana aku berpijak. Lewat goresan tanganku diatas kanvas, aku lukiskan sebuah petunjuk dan bercerita tentang budaya Indonesia khususnya jawa yang adhi luhung ini.

Menurut saya, dibumi pertiwi ini khususnya Jawa Dipa, sejak peradapan ini ada, sudah mempunyai budaya yang terbaik dimuka bumi. Karakter orang Jawa yang "nrimo ing pandum (mensyukuri akan rejeki yang diberikan), rame ing gawe (bekerja keras) dan sarwo apik kang tinandur" (selalu menanamkan kebaikan), maka dari itu banyak bangsa lain datang dan betah untuk tinggal dibumi nusantara ini, maka dari itu bangsa eropa pernah menguasai bumi pertiwi ini selama 350 tahun.

Yang menjadi keprihatinan sekarang ini budaya nusantara menjadi rawan, karena terpengaruh budaya asing yang masuk dan tidak sesuai dengan hati nurani kita yang menjunjung tinggi adanya budi pekerti. Mari kita lihat tumbuh suburnya budaya kekerasan, korupsi, pornografi, budaya adu domba, yang hidup di negeri ini. Menurut saya hal yang demikian merupakan penjajahan moral yang sudah merusak jati diri bangsa ini, apalagi di Jawa sudah "ilang jawane" (tidak memahami adat istiadat budaya jawa).

Maka disini saya mengajak pemerhati seni atau siapa saja yang masih mencintai etika budaya dan menjunjung tinggi akan budi pekerti, marilah kita bersama-sama "ndondomi" (menyulam) supaya tradisi Jawa ini utuh kembali.
Insyaallah kita yang hidup dibumi nusantara ini akan terasanyaman, damai, ayem tentrem, gemah ripah loh jinawi, sarwo becik kang tinandur. Amin.

Artha

Jumat, 19 Agustus 2011

Biografi Artha Pararta Dharma


            
Artha Pararta Dharma. Lahir 23 juni 1955 di Yogyakarta.  Anak nomor  7 dari pasangan bahagia Kawindro Suseno ( ayah) dan Subariyah (ibu).  Ayahnya bekerja sebagai abdi dalem (pujangga) di kraton Yogyakarta. Sejak umur 5 tahun Artha kecil sudah di ajari menggambar wayang oleh ayahnya. Yang meskipun dengan alat sederhana dan seadanya, bahkan terkadang Artha kecil dan ayahnya menggambar memakai arang yakni sisa kayu  bakar yang di pakai ibunya memasak di dapur. Meski begitu hampir semua tembok kuno yang ada pada bangunan rumahnya  penuh dengan corat coret tangan Artha. Tidak jarang, ibunya mengomel  dan memarahi Artha karena rumahnya terlihat kotor dengan semua gambar berwarna hitam. Karena Artha yang masih anak-anak, semakin dimarahi ia semakin semangat untuk menggambar dan mecari celah tembok rumahnya yang kosong. Suatu ketika Artha kecil berani demo melukis didepan para bangsawan yang berada disekitar rumahnya, dimana tempat tersebut merupakan tempat tinggal bangsawan kraton Yogyakarta.
 Ketika usia 9 tahun Artha masih kelas 3 sekolah dasar, barulah ia merasakan kekurangan dalam kehidupan ekonomi keluarganya. Ayahnya yang hanya sebagai abdi dalem keraton itu dengan gaji pas pasan harus bisa menghidupi ke 12 anak dan istri istrinya. Bahkan untuk sekolahpun Artha kecil harus memakai seragam sekolah yang kumal dan bau karena jarang di cuci, belum lagi Artha kecil harus bergantian seragam dengan adiknya yang masuk sekolah pagi. Hingga pada suatu ketika Artha kecil di jauhi teman temannya di sekolah karena merasa Artha kumal dan bau sehingga dia tidak mempunyai teman.  Menjelang kelas 6 sekolah dasar Artha mencoba memberanikan diri mengikuti lomba melukis yang mewakili sekolahnya. Dan Artha yang memang sudah mahir dalam menggambar tersebut berhasil merebut juara pertama se daerah istimewa Yogyakarta. Sebagai hadiah, sekolah memberikan Artha perlengkapan sekolah mulai dari baju, tas, sepatu dan buku-buku yang semuanya baru. Senang sekali hati Artha waktu itu hingga ia ingin tetap belajar menggambar dan beberapa kali mengikuti event  melukis yang ada di Yogyakarta dan selalu mendapat peringkat pertama.
        Setelah lulus sekolah dasar,  Artha baru mengetahui jika ayahnya punya saudara yang berkecukupan. Dan Artha pun di bawa oleh kakaknya mas Trisno, ke rumah pamannya yakni Bagong Kusudiharjo, seorang maestro tari dan pelukis yang hebat pada zaman itu. Ketika pamannya melihat dan menatap Artha yang kumal dan bau, matanya berkaca-kaca dan hatinya tersentuh untuk memberi kehidupan yang lebih layak. Dari awal itulah Artha mulai mengabdi dan belajar melukis lebih dalam lagi di rumah pamannya dan  tidak ingin melihat Artha yang sudah bersih kembali menjadi kumal dan bau. Segala kebutuhan Artha mulai dari seragam sekolah sampai kebutuhan transport terpenuhi. Dapat dilihat dari pakaian Artha yang bersih, harum, serta licin ketika berangkat sekolah. Artha juga diijinkan memakai motor pamannya agar pulang dan berangkat sekolah tepat waktu. Setiap malam ketika pamannya di sibukkan dengan melukis, Artha telah duduk manis di belakang pamannya yang sedang melukis. Tak satupun kegiatan yang luput dari mata Artha. Waktu masih SMP karya-karya Artha sudah banyak peminatnya, baik batik maupun cat minyak. Artha juga sudah bisa menghidupi diri sendiri dan membantu ekonomi orang tuanya. Setelah lulus SMA Artha semakin disibukkan oleh kegiatan melukis dan pameran di dalam maupun luar negeri, dan hasilnya bisa untuk membantu sekolah adik-adiknya sampai kuliahnya di seni rupa terkesampingkan. Artha Pararta Dharma adalah seseorang yang dilahirkan dan ditakdirkan sebagai pelukis profesional.
Adapun beberapa event  pameran dan lomba lukis yang di ikuti Artha mulai dari kecil sampai saat ini adalah sebagai berikut.